Muslim yang punya kepekaan nurani dan ketajaman akal pastinya bertanya-tanya: mengapa umat ini terus-menerus ditimpa penderitaan yang tak pernah usai? Genosida Muslim di Gaza oleh militer Yahudi. Krisis di Sudan. Derita Muslim di India dan Xinjiang. Juga sejumlah persoalan di banyak negeri Muslim lain. Sampai detik ini semua itu tak kunjung selesai.
Padahal ada dua miliar lebih Muslim di dunia ini. Kekayaan alam negeri-negeri Islam juga luar biasa. Mereka pun dianugerahi letak geografis yang strategis. Dunia Islam juga memiliki ratusan ribu bahkan jutaan tentara jika digabungkan. Dengan semua potensi itu seharusnya umat Muslim menjadi kekuatan yang menentukan arah dan nasib dunia. Akan tetapi, realitasnya hari ini umat Islam sangat lemah. Mereka seperti hewan ternak yang disembelih oleh berbagai bangsa, terutama negara-negara Barat imperialis.
Penderitaan umat berawal sejak Khilafah Islamiyah—pelindung mereka—dihancurkan pada akhir Rajab 1342 H (Maret 1924 M). Saat Khilafah masih ada, tak ada satu pun yang berani mengusik Islam dan kaum Muslim. Khilafah juga menjadi pelindung untuk berbagai umat beragama. Kaum Nasrani dan Yahudi hidup aman dan damai dalam perlindungan Khilafah.
Akan tetapi, Inggris lewat anteknya, Mustafa Kemal at-Taturk, seorang pengkhianat berdarah Yahudi, menghapus Khilafah. Setelah itu sang pengkhianat juga menghapuskan hampir semua ajaran Islam serta apa saja yang dia anggap berbau Islam dan Arab.
Keruntuhan Khilafah menimbulkan luka menganga yang panjang dan dalam di tubuh umat. Tak ada lagi persatuan umat pasca pembubaran Khilafah. Sampai hari ini umat Muslim terkoyak dalam lima puluh lebih negara-bangsa. Bahkan tidak jarang antar negeri Muslim saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah.
Ketiadaan Khilafah juga berimbas pada keleluasaan negara-negara imperialis Barat menjarah kekayaan alam Dunia Islam untuk memperkaya diri mereka. Sebaliknya, mayoritas Muslim pemilik kekayaan itu dibiarkan melarat. Itulah yang terjadi di hampir semua negeri Muslim seperti Afrika, Libya dan Indonesia.
Kaum penjajah juga membunuhi kaum Muslim yang melawan aksi penjajahan mereka. Jutaan Muslim di Afrika, Indonesia, dll menjadi korban agresi militer kaum penjajah seperti AS, Inggris, Belanda, Belgia, Prancis, dsb. Pada masa berikutnya mereka memerangi umat Muslim atas nama demokrasi dan perang melawan terorisme. Jutaan Muslim di Irak, Afganistan dan Libya menjadi korbannya.
Bencana lain usai keruntuhan Khilafah adalah para penguasa ruwaybidhah yang berkuasa di negeri-negeri Muslim. Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah saw.:
سَيَأْتِيَ عَلَى الناَّسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
”Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu pembohong dianggap jujur dan orang jujur dianggap pembohong. Pengkhianat dianggap amanah, sementara orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu ruwaybidhah berbicara.” Ada yang bertanya, ”Siapa ruwaybidhah itu?” Nabi saw. menjawab, ”Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.”
(HR al-Hakim).
Sifat ruwaybidhah ini terlihat dari penolakan mereka untuk menggunakan Kitabullah dan Sunah Nabi saw. sebagai petunjuk dan aturan hidup. Para penguasa itu pun bersahabat dengan negara-negara penjajah dan menjadikan mereka sebagai penasihat dalam urusan umat. Padahal negara-negara imperialis itulah penyebab petaka yang menimpa umat Muhammad saw.
Para penguasa ruwaybidhah ini juga beramai-ramai mengkhianati kaum Muslim Palestina. Mereka menjalin normalisasi hubungan dengan negara zionis Yahudi seperti melalui Perjanjian Camp David, juga beragam hubungan diplomatik, termasuk perdagangan. Sejumlah penguasa Muslim bahkan menyokong genosida Gaza dengan tetap membuka jalur perdagangan dan pelayaran bagi kapal-kapal logistik kaum Yahudi. Jelas mereka mencampakkan firman Allah SWT:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) serta mengkhianati amanah-amanah yang telah dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui
(TQS al-Anfal [8]: 27).
Para penguasa ruwaybidhah itu juga membantu rencana jahat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menjadikan Gaza di bawah kendali Dewan Perwalian internasional. Selanjutnya AS akan melucuti kekuatan Hamas dan mengganti mereka dengan pasukan asing. Dengan memalukan para penguasa Muslim justru ikut hadir, diam atau mendukung rencana ini.
Para penguasa ruwaybidhah itu pun terlibat dalam berbagai tindakan pengkhianatan terhadap sejumlah negeri Muslim yang lain. Para penguasa Muslim seperti Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab membantu Amerika Serikat dalam mencabik-cabik Sudan serta pemisahan Darfur. Mereka membiayai milisi pemberontak untuk melakukan pembunuhan massal dan brutal terhadap Muslim Sudan.
Para ruwaybidhah itu juga menyerahkan bagian lain dari tanah Islam. Kashmir dibiarkan dianeksasi oleh kaum musyrik Hindu. Rusia dibiarkan menganeksasi Chechnya dan wilayah lainnya dari tanah kaum Muslim di Asia Tengah. Timor Timur dibiarkan lepas dari Indonesia. Siprus, benteng kaum Muslim selama bertahun-tahun, kini sebagian besar dikendalikan oleh Yunani. Kaum Muslim Rohingya dibantai di Myanmar. Jika mereka mencari perlindungan ke Bangladesh, rezim Bangladesh menindas mereka dan tidak menolong mereka dengan memerangi musuh mereka! Turkistan Timur ditindas oleh Cina dengan brutal, dengan kekejaman yang bahkan akan membuat binatang buas pun gentar. Saat demikian para penguasa Muslim di negeri-negeri lainnya tetap diam layaknya mayat di dalam kubur. Jika mereka berbicara, mereka mengatakan bahwa penindasan Cina terhadap kaum Muslim merupakan masalah internal mereka!
كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِباً
Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta
(TQS al-Kahfi [18]: 5).
Wahai kaum Muslim! Jelaslah bahwa penyebab utama derita umat hari ini adalah ketiadaan Khilafah Islamiyah sebagai perisai (pelindung) umat. Telah 105 tahun luka ini masih mengalirkan darah dengan deras. Tak ada satu pun penguasa Muslim atau lembaga internasional yang bisa menolong umat ini. Apakah air mata dan darah umat yang sudah tertumpah belum menyadarkan Anda? Nabi saw. telah bersabda:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya
(HR al-Bukhari dan Muslim).
Wahai tentara kaum Muslim! Bukankah Anda sekalian mampu mengikuti para tentara Islam pendahulu kalian? Bukankah Anda sekalian mampu melakukan apa yang telah diwajibkan oleh Allah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa, yakni membebaskan Palestina dan Gaza dengan jihad? Berikutnya Anda sekalian mengembalikan setiap jengkal tanah kaum Muslim yang mereka pisahkan dari asalnya atau dikuasai oleh kaum kafir imperialis di timur bumi dan baratnya. Lalu Anda sekalian menggabungkan semua itu ke pusat negeri kaum Muslim. Bukankah Anda sekalian mampu melakukan itu semua? Bahkan sesungguhnya Anda sekalian, dengan izin Allah, pasti mampu!
Anda sekalian adalah anak-anak umat Islam, umat Rasulullah saw., umat kaum Muhajirin dan Anshar serta umat Khulafaur-Rasyidin dan para khalifah sesudah mereka.
Anda sekalian adalah cucu-cucu Khalifah Harun ar-Rasyid. Dialah yang menjawab Raja Romawi—saat melanggar perjanjiannya dengan kaum Muslim dan menyerang mereka—dengan berkata, “Jawabannya adalah apa yang kamu lihat, bukan yang kamu dengar!” Begitulah yang terjadi.
Anda sekalian adalah cucu-cucu Khalifah al-Mu’tashim. Ia pernah mengerahkan pasukan dalam jumlah besar hanya demi menyelamatkan seorang wanita Muslimah yang dianiaya oleh seorang Romawi.
Anda sekalian adalah cucu-cucu An-Nashir Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Ia adalah penakluk Tentara Salib dan pembebas Masjid al-Aqsa dari kekotoran mereka pada tanggal 27 Rajab 583 H, yang bertepatan dengan tanggal 2 Oktober 1187 M.
Anda sekalian adalah cucu-cucu Sultan Muhammad al-Fatih. Ia adalah pemimpin muda, yang Allah SWT muliakan dengan pujian Rasulullah saw. karena berhasil menaklukkan Konstantinopel.
فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ
Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (penaklukan Konstantinopel) dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut.
Mungkin ada yang bertanya: Apakah semua itu bisa terjadi? Apakah mungkin kaum Muslim dapat bangkit membebaskan negeri-negeri mereka, membebaskan Gaza dan Palestina serta menolong Muslim Rohingya, Uyghur, Kashmir dan India? Mungkinkah kaum Muslim sanggup menghancurkan hegemoni Barat dan militernya? Kami jawab, “Ya, Tuhan kita, Allah SWT, telah menyatakan demikian!”
إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian
(TQS Muhammad [47]: 7).
Apakah janji Allah SWT ini tidak cukup untuk orang-orang yang mengaku beriman?!
WalLâhu a’lam. []
Rasulullah ﷺ bersabda:
…”ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ.” ثُمَّ سَكَت.
“…Kemudian akan ada kekuasaan diktator. Kekuasaan diktator itu akan tetap ada sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Dia mencabut kekuasaan tersebut saat Dia berkehendak mencabutnya. Lalu akan ada lagi Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian.” Setelah itu beliau diam.
(HR Ahmad). []
Dalam 24 jam terakhir:
Luka-luka: 6 orang
Sejak gencatan senjata (11 Oktober):
Sejak 7 Oktober 2023 (kumulatif):
Di tengah reruntuhan Gaza yang belum sempat dibersihkan dari darah dan puing-puing, Amerika Serikat justru melanjutkan agenda Donald Trump dengan membentuk apa yang disebut Board of Peace. Di atas kertas, istilah ini terdengar mulia. Namun di lapangan, Dewan Perdamaian sama sekali tidak lahir untuk menghentikan penjajahan, apalagi memulihkan keadilan bagi Palestina. Sebaliknya, ia dirancang sebagai mekanisme imperialisme modern: mengelola Gaza pascagenosida tanpa mengakhiri pendudukan.
Fakta di lapangan berbicara sebaliknya. Dalam 24 jam terakhir saja, satu warga Gaza kembali gugur dan enam lainnya terluka. Seorang bayi berusia 27 hari meninggal akibat dingin ekstrem—korban langsung dari pengepungan, penghancuran rumah, dan pemutusan bantuan. Sejak gencatan senjata diumumkan, ratusan warga Palestina tetap terbunuh dan lebih dari seribu lainnya terluka akibat pelanggaran Israel yang terjadi hampir setiap hari. Serangan udara, tembakan drone, artileri, dan helikopter tempur terus menghantam Gaza City, al-Mawasi, Bureij, Deir el-Balah, hingga Rafah—bahkan di wilayah yang seharusnya telah ditarik mundur pasukan Israel.
Sementara 2,2 juta penduduk Gaza terjebak dalam krisis kemanusiaan akut, dengan sekitar 90 persen infrastruktur sipil hancur dan akses terhadap makanan, obat-obatan, serta tempat tinggal dibatasi secara sistematis, Washington justru menawarkan skema politik yang menyingkirkan pemilik tanah itu sendiri. Struktur tiga tingkat yang diumumkan menempatkan Donald Trump dan elite pro-Israel di puncak kekuasaan, negara-negara sekutu sebagai pengelola regional, dan Palestina direduksi menjadi teknokrat tanpa kedaulatan—sekadar pengelola puing dan layanan publik.
Model ini bukanlah hal baru. Ia mengulang pola lama kolonialisme: penduduk lokal disingkirkan dari keputusan strategis, keamanan dikendalikan oleh kekuatan asing, dan arah politik ditentukan oleh penjajah. Dengan bahasa “rekonstruksi”, “stabilitas”, dan “perdamaian”, akar persoalan yang sesungguhnya—yakni pendudukan dan perampasan hak—sengaja disamarkan menjadi isu teknis dan kemanusiaan.
Lebih berbahaya lagi, Board of Peace sejalan dengan strategi keamanan nasional Amerika Serikat yang sejak lama konsisten mempertahankan hegemoni global dan melindungi kepentingan Zionis. Perbedaannya hanya pada gaya: ketika Partai Demokrat membungkusnya dengan retorika diplomasi dan HAM, Trump menyajikannya secara terang-terangan melalui doktrin peace through strength—perdamaian melalui pemaksaan.
Selama pendudukan tidak diakhiri, tidak ada dewan, komite, atau perwalian asing yang mampu menghadirkan stabilitas sejati. Gaza tidak membutuhkan direksi baru, melainkan pembebasan dari penjajahan. Realitas ini menunjukkan bahwa umat Islam membutuhkan institusi politik yang benar-benar melindungi dan menjamin kemuliaan Gaza, yakni Negara Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah. Board of Peace pada akhirnya hanyalah nama lain dari penjajahan yang diberi wajah baru.[]